Minggu, 29 November 2009

Pria misterius dan Doa dari sang Bidadari

Sudah beberapa kali ini aku mengamati pria yang aneh itu. Hamper setiap hari, setiap jam sembilan pagi. Ia datang dengan sepeda motor dengan corak warna warni dan ber helm hitam dan berkacamata masuk kedalam masjid. Tapi anehnya bukan untuk sholat atau mengaji atau apalah. Dia masuk sebentar kedalam masjid kemudian keluar lagi. Dan itu sudah aku amati beberapa kali. Wajahnya tak tampan, namun sekelebat agak sangar. Sebenarnya aku tidak mau ber buruk sangka. Namun wajahnya itu tak bisa dilupakan.

Misterius namun sepertinya baik.

Ku amati dia setiap hari, karena aku juga menyapu halaman depan. Awalnya aku pikir dia akan sholat dhuuha, ternyata setelah mendapat berkesimpulan ia hanya masuk sebentar kemudian pergi. Jangan-jangan dia mau berbuat jahat dengan mencuri kotak amal. Ah enggak mungkin, pasti sama Mas Eko, sipenjaga masjid sudah dikunci. Ditambah kotak amal di masjid itu kan besar. Masak mau digondol? Atau dia mencukil uang? Ada kemungkinan.
Esok hari aku mengamati kembali. Jam dinding sudah menunjuk ke angka sembilan kurang lima menit. Asyik nampaknya bertingkah seperti detective. Me mata-matai seseorang yang tidak aku kenal. Apalagi jaman sekarang modus kejahatan kan berbeda-beda. Apalagi pelakunya yang diduga shalih, namun ternyata ke shalihan yang ditampakkanya adalah alibi, agar kejahatannya tidak terendus. Pelaku kejahatan berkedok menjadi orang shalih. Masya Alloh…

Aha…Dia datang!

Aku pasang mataku tajam menyorot pasti. Kali ini jaket yang dipakainya berbeda dengan yang biasanya. Warnanya gelap namun lebih ke arah hitam. Sedangkan jaket yang sebelum-sebelumnya berwarna abu-abu tua dengan corak sedikit hitam dibeberapa bagian. Kali ini dia memakai sepatu dan bertas. Sekarang ia sedang melepas helm-nya.
Aha! Belahan rambutnya! Jelas sekali. Ia memasuki masjid. Sedang lingkungan masjid sekarang sedang sepi. Lagipula orang-orang jarang sholat dhuha di masjid. Rata-rata mereka sholat dhuha dirumah mereka masing-masing. Kali ini masjid sedang sepi, tapi dimana Mas Eko? Jangan-jangan dia sengaja ber operasi ketika penjaga masjid lengah.

Mungkin!

Apa aku lebih baik bertindak sekarang ya? Ah enggak ah. Jangan-jangan dia membawa senjata tajam di tasnya lagi. Nanti pas kepergok, bisa-bisa senjata tajamnya melayang ke tubuh tuaku. Hii.. ngeri.. aku putuskan aku mengamati saja. Tapi suatu saat aku pasti akan ku laporkan pada Mas Eko atau Ustadz Ridho.

Wah dia keluar! Dengan santainya ia keluar dari masjid !

Aku harus lapor dengan mas Eko. Harus sekarang, semoga tindakanku kali ini mendapat ridho Alloh. Walhasil aku buka pintu rumahku. Tak lama Ranti memanggilku dari belakang.
“ Umi ! Habis mengintip lagi?” Ujarnya dengan alis kirinya yang diangkat satu.
Aku sengaja diam dan membalas pertanyaan Ranti dengan senyum. Aku harap Ranti tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Sebenarnya dia sudah tahu kebiasaanku mengintip, setelah beberapa kali aku memergoki pria mencurigakan itu. Dan ia pun juga sudah beberapa kali menasihatiku untuk berbaik sangka. Ah, sudah cukup dewasa dia sekarang. Umurnya sudah dua puluh tiga tahun, sudah saatnya mencari jodoh.
Ingin sekali aku menjodohkannya dengan saudara ustadz Ridho. Namanya Hadri. Shalihnya minta ampun, kulitnya putih bercahaya, bibirnya tipis merona merah, teduh sekali wajahnya. Oh seandainya dia menjadi mantu ku. Berkali-kali aku berdoa agar Alloh membukakan hatinya untuk Ranti anakku satu-satunya itu. Padahal Ranti sendiri adalah gadis yang cantik lagi baik. Tapi, alhamdulilah sejak dahulu tidak pernah mau berpacaran seperti kawan yang lainnya. Sungguh baik akhlak anakku. Alhamdulillah…

Segera aku melangkahkan kakiku ke sebuah bilik tempat Mas Eko tidur dan melepas lelah. Aku ketuk pintunya.

TOK TOK TOK…

Tak lama Mas Eko keluar, wajahnya teduh dan berucap salam.
“ Assalamualaikum Ibu, ada apa ya?”
“ Anu mas, sebenarnya begini… aduh enggak enak kalau mengobrol berdua bukan mahram begini. Ayoh ikut Ibu sebentar Nak, ke depan gerbang masjid, biar tidak ada fitnah “

Mas Eko menyanggupi.

Mas Eko berjalan dibelakangku. Tak lama aku berhadapan dengannya.

“ Ada apa Ibu?”
“ Begini Mas, bukannya maksud saya berburuk sangka dengan seseorang. Tapi, apa Mas Eko paham dengan seorang pria dengan sepeda motor, helemnya hitam, memakai jaket dan setiap jam sembilan ke masjid namun hanya sebentar. Setelah itu keluar. Apa Mas Eko pernah melihatnya?”
Mas Eko kemudian bertanya kembali kepadaku.

“Yang berkacamata?”
“ Betul mas! Saya lihat kok gerak-geriknya aneh. Apa pernah kotak amal, Mas check ada yang berkurang? Saya ini takut kalau ternyata dia mau mencuri atau mengambil uang dikotak amal itu lho. Mas pegang kunci kotak amal toh?”

Mas Eko kemudian tersenyum. Kali ini senyumnya lebar sekali sampai giginya terlihat. Ia segera menjelaskan padaku.
“ Begini bu… sebenarnya saya sendiri tidak kenal dengan pria itu. Awalnya juga saya curiga dan berburuk sangka sama seperti ibu sekarang. Tapi bu, setelah beberapa kali aku melihat dan pernah juga aku mengecek kotak amal, bukannya berkurang. Malah bertambah Bu. Jadi orang yang ibu sangka itu bukan berniat jahat, mencuri atau apa. Tapi dia itu sedang ber amal”

Aku segera membulatkan mulutku. Kemudian Mas Eko melanjutkan berbicara.

“ Ber infak atau sodaqoh itu baik keduanya nampak oleh manusia atau tidak nampak. Alias hanya Alloh yang tahu. Kalau dia sedang berinfak namun nampak oleh manusia, sesungguhnya dia sedang mengajari orang yang yang ketika itu sedang melihatnya. Dan apabila dia ber infak/ ber sadaqoh tak tampak oleh manusia, dia aman dari ujub dan riya yang bisa saja sewaktu-waktu syetan membisikan padanya” Ujar Mas Eko dengan senyum.

“ Oo…”
“ Toh, kita juga sedang butuh donator buat membeli atap plastic seperti itu kan Bu”. Kata Mas Eko sambil menunjuk kearah atap plastic berwarna hijau tua itu.

“Namun, kita sekarang sedang menunggu infak yang biasanya dihitung tiap jum’at, dan belum ngumpul-ngumpul juga. Mungkin inilah cara Alloh dengan mengirimkan pria misterius itu untuk membantu penambahan fasilitas masjid dengan caraNya. Dan ternyata begitu itu… “ Jelas Mas Eko panjang lebar.

Setelah mendengar penjelasan dari Mas Eko aku segera kembali kerumah. Dalam hatiku ber-istighfar karena sudah berburuk sangka dengan pria misterius itu. Aku masuk dan sengaja naik kelantai atas. Tiba-tiba ada rasa ingin mengintip apa yang sedang dilakukan oleh Ranti anakku yang dikaruniai wajah yang elok, akhlak yang lembut dan tutur kata yang santun itu.

Aha! Dia sedang sholat dhuhaa nampaknya! Aduhai, siapa pria yang beruntung mendapatkan engkau wahai anakku, bidadari surga. Bidadari surga bermata jeli yang Alloh anugerahkan padaku. Terkadang aku berfikir ini adalah rahmat atau ujian bagiku untuk tetap menjaga agar akhlaknya tidak berubah menjadi buruk. Ku elus dadaku dengan tangan kananku, sambil masih melihatnya Ranti. Sekarang Ranti sedang menengadahkan kedua tangannya. Ia tak tahu aku dibelakangnya mengamati.
Setelah beberapa menit ia berpaling kebelakang. Ia menatapku polos, alisnya yang tebal namun runcing dan seperti bulan sabit itu menatapku polos. Kadua matanya menatap dengan sedikit membelalak namun tidak ada segorespun kesan galak diwajahnya.
“ Kenapa Umi? Sudah, mengintipnya?” Ujarnya sambil senyum meledek.
“ Berdoa apa?” Ujarku mengalihkan perhatiannya sambil tersenyum simpul ingin tahu.
“ Eum… berdoa supaya berjodoh dengan pria misterius yang sering kita intipin itu”
“ Ha? Jadi … selama ini setiap jam sembilan kamu juga mengintip pria misterius itu?”

Ranti mengangguk dan tersenyum.

“ Dia jelek Ranti. Enggak ganteng. Mending sama sodaranya Ustadz Ridho. Indah hatinya, indah wajahnya, mapan pula. Kurang apa coba Ran?”
“ Ranti itu tidak melihat seseorang dari fisik. Tapi ini…” ujarnya sambil menempelkan telapak tangannya didada.
“ Tapi Ran, Mas Hadri kan juga shalih?”
“ Umi, hati akan berbicara siapa yang pas dengan dirinya. Betapa banyak didunia ini lelaki yang shalih. Namun, apakah kesemuanya itu pas dengan hatiku? Aku hanya mantap saja dengan pria yang tak ku kenal namanya, hanya kulihat sedikit gerak-geriknya. Walaupun sebenarnya aku ragu apakah dia shalih atau tidak. Tapi sedikit saja tingkahnya aku sudah bisa menilai”


Aku seperti sudah tidak bisa memaksanya lagi. Dia memang sudah dewasa sekarang. Perkataanya, detail kata yang ia ucapkan begitu mengena. Oh, Alloh, dari mana wajah yang ayu dan elok ini. Apakah Kau buat bukan dari tanah dunia? Ataukah dari tanah surga yang putih lagi bersih. Oh hatinya… wahai Tuhanku… tenang dan memancarkan nur, nur dariMu wahai Rabb. Sungguh beruntung pria yang disebut dalam doanya. Sungguh beruntung. Sungguh beruntung.


Isworo Rizqi
Hari selasa, 28 April 2009
Pukul : 8. 36 PM
Ketika hujan mereda dan menyisakan sejuk diluar namun hangat hati…

0 komentar:

Poskan Komentar