Memang sih aku akui aku sedikit pendiam. Eh bukan sedikit ding.. hehe.. memang aku ini orang pendiam. Aku lebih suka berbicara dengan diriku sendiri setiap menamukan suatu masalah. Atau kalau aku sudah pusing banget dengan masalahku, aku lebih suka mencurahkannya dengan tulisan. Menulis diary. Memang agak sedikit aneh, lelaki menulis diary? Bukannya lebih banyak wanita yang menulis diary? Yaa.. it’s me. Aku rasa itu semua bisa menghilangkan beban atau masalah-masalah yang sedang aku alami. Dan yang terpenting aku tidak merugikan orang lain. Betul kan??
Aku sholat Zuhr di Masjid Jami itu. Aku jadi makmum masbuk, yang sebelumnya sudah ada dua orang yang menjadi ma’mum disana. Aku bertakbir, namun Imam sudah bertakbir lagi untuk ruku. Aku pun mengikutinya. Lumayan masih dapat raka’atnya imam. Aku melanjutkannya hingga akhir. Dan kekurangan sholatku aku lakukan setelah imam melakukan salam. Imamnya pas banget, sepertinya sehati denganku. Tiap kali selesai membaca surat, imam juga selesai membaca dan bergerak lain.
Usai sholat aku berdzikr sebentar. Kemudian bangkit dari tempat duduk ku dan nongkrong didepan teras masjid. Sementara ada beberapa jamaah setelah sholat malah tidur-tiduran. Aku hanya melihat mereka sekejap. Suasana pada waktu itu tenang sekali, tidak ada motor atau orang lewat didepan masjid. Yang ada hanya ibu-ibu dengan membawa payung berwarna hijau dan menenteng kantung plastik kresek warna hitam. Entah ia hendak kemana.
Aku sandarkan tubuhku pada dinding masjid. Beberapa kali similirnya angin menyejukkan wajahku yang tadi basah karena wudu. Tak lama kemudian ada seorang wanita memasuki masjid. Aku hanya melihatnya sekelebat, sesudah itu aku memandang yang lain. Memang itulah aku, aku sedikit pemalu dengan wanita. Padahal sudah dewasa seperti ini. Yang aku lihat tadi wanita dengan rambut yang dikucir satu kebelakang bak ekor kuda. Tatapanya sayu namun dalam padaku. Rasanya tidak nyaman, namun sejuk. Aku akui, wajahnya biasa saja namun menarik.
Tak lama aku duduk, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“ Ayo Mas, aku duluan “
“ Oh, Iya “ Ujarku dengan senyum mengembang
Ternyata dia adalah yang menjadi imam sholatku tadi. Seusai sholat ia berdzikr lama batul. Pakaiannya rapi dengan hem berwarna biru kehitam-hitaman dan dengan celana panjang warna hitam plus sandal jepit warna biru tua. Ia tersenyum dan melenggang pergi.
Kenal saja belum, tapi rasanya seperti sudah akrab dengannya. Yang aku lihat dari orangnya, ia cukup sholih.
Akhirnya setelah rehat sejenak aku kembali ke kantor. Disana pasti sudah menunggu teman-temanku yang sedang makan besar karena salah satu kawanku itu sedang berulang tahun kali ini. Katanya dia hendak membawa nasi kuning dan akan disantap bersama-sama ketika makan siang.
***
Lelahnya sepulang dari kantor. Pukul setengah lima-an. Entah kenapa tiba-tiba saja hatiku tergerak untuk kembali lagi kemasjid Jami itu. Lagi pula aku juga belum sholat Asr. Walhasil, keluar dari kantor aku belokkan motorku kearah masjid Jami Al Mu’min. Kesan pertama ketika tiba dimasjid, sepi sekali. Hanya ada pengurus masjid yang mondar-mandir entah sedang sibuk apa dia.
Aku lepas sepatuku. Angina di masjid membelai kakiku yang sedikit berkeringat karena tertutup sepatu. Kemudian aku bangkit dari tempat duduku dan segera mengambil air wudu. Sementara itu tanpa sepengetahuanku ternyata sudah ada seorang wanita yang sedang duduk ditempat aku melepas sepatu itu. Ternyata wanita itu terus memandangi sepatuku, hingga aku selesai berwudu.
Kedua mataku menatap tajam dengan penuh tanya ada apa dengan wanita itu? Mau apa dia? Apa dia mau mencuri sepatuku? Aku perlahan mendekatinya. Ia kemudian menatapku. Ternyata wanita itu adalah wanita tadi siang ketika sholat Zuhr. Kali ini berbeda, ia nampak anggun dengan jilbab berwarna pink. Wajahnya yang memang halus dan putih bersih sempat membuat dadaku berdesir kencang. Aku kemudian memutuskan berbaik sangka dengan wanita itu dan segera masuk ke masjid untuk sholat Asr tanpa memperdulikannya yang masih juga mengamati kedua sepatuku.
Aku sholat Asr lumayan khusyuk didalam sana. Suasana yang hening yang cukup membantuku focus pada tiap detil bacaan sholat. Usai sholat seperti biasa berzikr sebentar. Kemudian bangkit dan segera pulang. Sungguh terkaget-kaget ketika keluar dari masjid wanita itu masih ada dan duduk tidak jauh dari sepatuku. Ia melihatku dengan tatapan khasnya. Dingin sekali tatapannya. Aku hanya menatapnya sebentar kemudian segera memakai kaus kakiku.
“ Nama kamu siapa Mas?”
Tiba-tiba kalimat itu keluar dari bibir tipis wanita itu. Aku segera menengok kearahnya. Ia menatapku.
“ Mbak tanya saya?”
Wanita itu hanya menggangguk. Namun, kedua matanya tidak bisa lepas dari wajahku. Kedua matanya yang bergerak-gerak seolah sedang mengamati betul detil wajahku. Akupun kala itu sempat berfikir, ada apa dengan wajahku ini. Memang sich, wajahku berjerawat lagipula tak begitu tampan.
“ Nama saya Haris Mbak. Mbak sendiri?”
“ Wulan “
***
Sejak saat itulah kami berkenalan. Berkenalan yang kemudian menjadi teman. Cukup akrab, akupun akrab dengannya. Ya walaupun sebenarnya dialah yang memberi nyawa dengan selalu memulai dengan pembicaraan. Dialah yang selalu memberi topik pada setiap obrolan kami. Hingga suatu ketika ia duluan yang menembak untuk menyatakan cintanya padaku. Memang pada saat itu sebenarnya sudah muncul bibit rasa cintaku dengannya. Namun apa daya aku ini sedikit pendiam dan tertutup jadi tidak pernah bahkan terbersit pun tidak untuk menembak duluan padanya. Meskipun kadang rasa cinta dihati tidak bisa ditutupi lagi. Sebuah cinta yang muncul karena terbiasa.
Aku menerima cintanya. Hahaha,,, seorang pria ditembak oleh seorang wanita. Yang berujung pada tukar cincin dan pelaminan. Hingga suatu ketika setelah menikah selama satu tahun dan kami belum punya anak. Aku sempat bertanya padanya. Kenapa dia suka aku ketika itu, dan kenapa pula ia yang menembak aku duluan pada saat itu.
“ Mas, sebenarnya aku ini indigo children “ Ujarnya dengan lembut
“ Indigo? “
“ Ya indigo. Seseorang yang di anugerahi kemampuan lebih dari yang biasanya. Aku juga tidak mengerti apakah ini suatu kelebihan dari Alloh atau sebenarnya ini adalah kekurangan “
“ Trus apa hubunganya dengan cintamu padaku kala itu?”
“ Mas ingat? Kala itu aku mengamati sepatu Mas ketika di masjid?”
Aku mengangguk
“ Nah, kala itu aku langsung bisa menembus ruang dan waktu. Aku melihat masa lalu dan masa depan Mas, perilaku Mas, isi hati Mas. Dan semuanya menunjukan aura yang putih sedikit ke emasan. Aku melihat aura positif kala itu. Aura kesholihan “
“ Sholih? Ah tidak juga. Sholatpun aku terlambat dan tidak tepat waktu kala di masjid itu kan? “
“ Oh bukan! Bukan kala itu, aku melihat Mas yang masa depan, yang sekarang ini. Aku melihat sepatu Mas dan bisa membiaskan masa depan Mas. Dan sekaarang adalah bukti. Mas jauh lebih sholih dan aura itu semakin kuat. Aura yang lebih tinggi dari aura para Indigo children “
“ Mas masih belum mengerti “
“ Mas tidak akan pernah bisa mengerti atas apa yang dipikirkan dan kemampuan anak indigo. Yang aku tahu Mas adalah orang yang bersih. Bersih hati luar dan dalam. Meskipun sekarang Mas sedang Gede Rasa karena aku puji barusan. Betul kan… Ayo ngakuu… “ Ujarnya sedikit manja
“ Hehe kok tahu?”
“ Aura Mas, tidak bisa bohong “
“ Oh ya?!” Ujarku dengan senyum
“ Iya dong. Bahkan ketika Mas sedang marah, sedang kelelahan, aku tahu semuanya. Dan anehnya setiap mas sedang marah auranya berubah kemudian seketika kembali lagi. Dan aku yakin kala itu mas sedang menenangkan diri dengan berdzikr. Hingga aura marah yang panas akan segera meredup dan berganti aura mas yang asli. Yaitu putih ke emasan “
“ Subhanalloh.. “
“ Dan tahukah kamu Mas? Kamu adalah Savior ku. Kamu adalah penyelamatku. Nanti,.entah kapan waktu itu pasti terjadi. Tapi kamulah yang akan menyelamatkan ku. Karena itulah aku segera memilihmu untuk menjadi suamiku. Karena ketika aku melihat sepatumu yang pertama kali aku lihat adalah kamu sedang berusaha menggayuh ku dari lubang didalam sana penuh dengan ketakutan. Sebuah lubang yang penuh dengan jerit tangis penyesalan, kesakitan, teriakan. Lubang itu sulit aku jangkau dengan kemampuanku. Namun lubang itu mengerikan sekali. Dan kau kala itu sedang berusaha menyelamatkan ku. Karena itulah aku memilihmu “
Aku hanya menatap wajah Wulan yang sedang serius bercerita. Wajahnya dipenuhi rasa cemas dan harap. Meskipun jujur aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Yang aku tahu aku akan setia padamu. Karena kau yang mempercayaiku untuk mendampingimu hingga ajal nanti. Bahkan hingga jasad kita terpisah. Aku berdoa agar Alloh menyatukan kami lagi kelak di surga yang sejuk dan damai disana…
“ Aura Mas berubah lagi… Terima Kasih Doanya Mas…”
Aku terhenyak. Bagaimana dia bisa tahu aku sedang berdoa???????? Dasar Indigo…
“ Sudah Azan Asr . Ayo sholat dulu. Mumpung kita dekat dengan Masjid “
“ Ayo Mas… “ Ujarnya dengan senyuman yang terpancar tulus itu. Dibalik jilbab panjangnya sebahu ia seperti bidadari di surga sana… Subhanalloh…
Isworo Rizqi
Semarang, 4 Oktober 2009 11:16 AM
Kala siang yang sedikit mendung namun cukup gerah…
0 komentar:
Poskan Komentar