Sesekali dihibur oleh nyayian sang pengamen yang suka mondar mandir diwarung itu. Mengharap lima ratusan atau seribuan yang didapat. Karena kebanyakan mahasiswa paling sedikit ngasih kepada pengamen disini lima ratusan. Meskipun terkadang suara dan gitarnya yang fals itu sedikit tidak enak didengar oleh telinga pengunjung. Beberapa pengunjung warcel sedikit terganggu dan bagi yang terbiasa tidak pernah memberi uang kepada pengamen, seperti aku ini, nampaknya pengamen itu sudah hapal. Aku tidak pernah disodori bekas botol ‘Aqua’ kecil yang penuh dengan recehan dan seribuan itu. Soalnya sudah berkali-kali disodori, tak pernah aku beri. Hehehe.. :D maklum anak kos yang kere. Jadi para pengamen itu sudah hafal dan tak pernah lagi menyodoriku gelas bekas ‘Aqua’ itu. Hehe… :D
Tiba-tiba aroma parfum cewek menelisip lembut dihidungku. Ternyata Vania tiba-tiba duduk disampingku. Gadis yang menurutku berbadan bagus itu, suka dibilang ‘endut’ sama teman-temannya. Padahal menurutku badannya tidak gendut amat. Bahasa seronoknya ‘berisi’ hehehe :D.
“ Sendirian Mas?”
“ Eh, Iya Van. Mau maem sekalian?”
“ Udah pesen kok” Ujarnya santai sambil melepas tas hitam yang tadi masih ia ‘cangklong’kan dipudaknya.
Aku segera tengak-tengok kekanan kekiri. Tak ada kawannya dia. Biasanya dia kalau mondar-mandir selalu sama genk nya. Tapi sekarang ini entah kenapa dia sendirian.
“ Kamu sendirian toh? Genk-genk mu mana Van?”
“ Aku cabut Mas, males kuliah. Hehe “ Ujarnya sambil ketawa ringan.
“ Ada kuliah kok malah cabut? Nanti kayak aku lho. Lulusnya molor” Ujarku sambil senyum
“ Beda kali Mas, akukan pinteran ketimbang Mas. Hahaha… Becanda lho..” Ujarnya sambil tertawa.
Terlihat lesung pipi dan giginya yang gingsul itu. Mengintip dari bibirnya yang kemerah jambuan dan tipis. Indah sekali ketika ia tertawa. Pipinya agak gembung tapi keliatannya empuk kalau dicubit. Gemas rasanya.
Tak lama pesanan Vania datang. Satu porsi sama persis seperti porsiku. Porsi yang cukup gede bagi cewek sich. Pantas badannya berisi begitu, lha wong makannya juga kuat kok, batinku. Sementara punyaku sudah mau habis.
“ Aku mau tanya Mas” Ujarnya sambil melahap satu sendok pecel.
“ Tanya apa?”
“ Aku kok kadang ngerasa enggak PEDE ya, sama tubuhku yang gini. Aku tuh udah masuk criteria gendut apa belum sich Mas. Jujur lho…”
“ Hehehe… Bagiku sih enggak. Sedanglah. Enggak terlalu kurus tapi juga enggak terlalu gendut”
“ Tapi Mas, temen-temenku manggil aku ‘Endut’ kenapa ya? Mas tahu sendiri kan?”
“ Iya sih, tapi enggak ah. Sedang kok. Mungkin pipimu yang agak chubby itu yang membuat kamu agak kelihatan agak endut kali”
“ Oo… gitu…” Ujarnya sambil nyeruput teh anget yang dipesannya.
“ Enaknya diet enggak ya Mas?” Lanjut Vania
“ Up to You. Yang penting PEDE aja lagi. Mau endut atau kurus”
“ Brarti Mas mendukung aku endut dong??”
“ Ya bukan gitu. Semuanya terserah padamu. Kamu mau gendut yang up to you, mau diet ya up to you juga, soalnya yang ngejalanin hidup kan kamu. Trus kalau boleh nasihati, manusia itu tidak ada yang sempurna. Anehnya manusia itu sendiri yang ngotot pengen kelihatan sempurna dimata orang lain”
“ Lha nanti kalau aku tidak punya pacar gaga-gara aku gendut gimana Mas? Apa Mas mau tanggung jawab?? Hahaha..”
“ Eh, aku bilangin. Tuhan itu adil, Tuhan itu tidak hanya memberi mata untuk melihat fisik namun Tuhan juga menganugerahi manusia sebuah hati yang hubungannya dengan selera. Ada lelaki yang seleranya cewek yang agak chubby-chubby gitu juga ada. Ada juga lelaki yang seleranya sama yang kurus-kurus. Understood??”
“ Iya Pak Dosen…” Ujarnya sambil senyum.
“ Hahaha… sip! “
Kemudian topik pembicaraan kita beralih. Makan siang yang cukup seru karena ditemani oleh Vania. Soalnya tiap siang suka makan sendirian. Kali ini ada temennya. Hehe…
0 komentar:
Poskan Komentar