Selasa, 17 November 2009

Maaf bebek kepada Tanah

Hari ini aku pulang kampus. Cuaca cukup bersahabat. Tidak panas juga tidak dingin. Yaahh.. sedanglah… bahasa keren nya (in between) alias ngambang. Tapi menyenangkan. Tidak perlu payung atau sun block untuk melindungi dari terik di siang hari. Dasar dari desa, sifatku masih juga seperti wong ndeso, meski demikian aku kuliah di kota besar. Biar ndeso yang peting ada di kota besar. Betul tho?? :D haha..
Aku baru saja keluar dari kampus dan hendak pulang. Ku naiki motor yang lumayan mentereng. Pemberian Bapak dan Ibu dari kampung. Kadang aku teringat juga wajah mereka. Bapak sudah pensiun dari PNS, sedang ibu masih mengajar di Madrasah Ibtidaiyah di kampung. Mereka sudah mulai menua. Tiap tahun namun tak terasa, kerut diwajahnya tergurat perlahan namun pasti.
Masih dengan kecepatan sedang. 40 Km per jam aku paju kereta besiku. Hingga suatu ketika ada bebek menyeberang dijalan. Entah bebek siapa. Menyeberang di tengah perumahan padat penduduk. Batinku, “kok masih ada ya, orang memelihara bebek dikota sebesar dan sesumpek ini”. Aku pun segera mengerem mendadak. Takut nabrak si bebek. Kalau nabrak si bebek, trus si bebeknya mati. Bisa-bisa aku jadi bulan-bulanan yang punya bebek.
Ckiiit….
Bebek itu berhenti dan melihatku. Wajahnya masih terlihat seperti wajah bebek yang bego dan tanpa dosa itu. Ia terus memandangku. Kemudian akupun segera turun dari motor dan menggiringnya kepinggir. Tak lama bebek itu berkata.
“ Pulang kuliah bro??”
Aku terperanjat kaget bukan kepalang.
Whattt??!! Bebek bicara??!! Apa aku ini mimpi??!! AH TIDAK MUNGKIN… INI GILAA !!
“ Kamu bicara denganku bek??” Tukasku seketika kala itu.
“ Emang sama siapa lagi bro??” Ujar Bebek itu.
Aku segera tengak tengok kekanan dan kekiri siapa tahu ada tetangga lain yang melihat bahwa ada bebek yang bisa bicara. Namun tak ada seorangpun dijalan sempit ini. Meski rumah saling berdempet namun siang ini begitu sepinya. Kemudian akupun terfokus pada bebek.
“ Emang kamu mau kemana Bek?”
“ Mo ikut bro?? Ayuk! “
“ Waduh, enggak deh aku kan cuma basa-basi dan sedikit kaget saja. Masa aku sedang berbicara sama bebek? Aneh sekali kan?”
“ Kamu kira bibirku yang panjang ini gunanya untuk nyosor aja.. kamu ini mahasiswa kok otaknya kayak bukan mahasiswa” Tukas bebek itu meledekku.
“ Lha emang buat apa?”
“ Lhoh!! Bego betul kau ini.. Lha ini aku sedang ngobrol sama kamu. Gunanya bibir ya buat ngobrol lahh… “
Aku masih termangu kosong mendengar ocehan si Bebek. Aku masih setengah tidak percaya.
“ Udah ah.. Daripada liatin kamu bengong mending aku ke lapangan” Lanjut Bebek. Kemudian si Bebek melangkah menuju lapangan
“ Mo ngapain??!! “
“ Mo minta maaf!! “
“ Minta maaf?? Sama siapa??!” Teriakku agak keras.
“ Sama Lapangan “
Sementara si Bebek terus berjalan meninggalkan ku yang masih juga tidak percaya akan kejadian ini.
“ Emang punya salah apa Bek??!!”
“ Aku sudah berak di atasnya !”
Tak lama seorang Ibu-ibu masih memakai daster keluar dari kamarnya.
“ Jangan teriak-teriak Mas, ini kampung. Anak ku sedang tidur noh.. “
Aku meringis dan meminta maaf kepada Ibu-ibu berdaster tadi. Lalu aku putuskan untuk pulang dengan masih menyisakan tanda tanya mengenai si bebek.

0 komentar:

Poskan Komentar